Cinta Ollie Pada Style dan Fashion

fashion olie

Permasalahannya hanya bola. Semuanya berakhir gara – gara bola. Justru bola yang membuat hubungannya menjadi berantakan. Si kulit bundar itu sudah sering membuatnya tersaingi. Kenapa sih harus ada bola di dunia ini? Dan sekarang wanita juga suka bola. Kemana – mana pergi nonton bola bareng gebetannnya. Mereka terlihat akrab meneriaki goal. Bola dijadikan objek pacaran. Apa enaknya melihat benda bulat itu digelindingkan dari kaki ke kaki kalau justru pada akhirnya dimasukkan ke gawang? Aneh!

Menempati kedudukannya sebagai wakil ketua OSIS, menjadikan Ollie banyak dikenali cowok – cowok ganteng. Tapi justru cowok – cowok bawahannya pada menjulukinya Ollie si Jodoh Bola. Karena mengingat bekas gebetannya yang semuanya adalah pemain bola papan atas!
Mengapa harus si Jodoh Bola? Padahal kebenciannya akan bola boleh diadu berbanding terbalik dengan sebutannya. Tapi ini yang membuatnya mudah diingat. Kalau dua hal sudah saling membenci tingkat dewa, sebutannya justru kebalikannya.

Kenapa justru bola yang merusak kehidupan asmaranya? Di sekolah, Ollie termasuk playgirl kelas kakap. Tapi julukannya tidak menjamin kehidupan cintanya semata. Dan cerita terakhirnya justru datang ketika bersama Billy. Tanpa disangka kian santer tersiar kabar kalau Billy mendua dengan kapten tim kesebelasan bola wanita di sekolah seberang. Ollie-pun naik pitam. Dan ini menambah daftar panjang urusannya yang tidak mengenakkan dengan bola.

Setelah semua pengalaman buruknya mengenai bola, Ollie malah diajak Neni nonton final piala Kapolres di lapangan desa sebelah. Awalnya Ollie ogah, tapi setelah terkena rayuan maut Neni, berhubung juga dia lagi diputusin pacarnya si Smith. Jadi Ollie tidak tegaan menolaknya. Neni memang begitu, kalau lagi stress bisa keluyuran ke tempat yang benar – benar aneh. Masalahnya bukan tempatnya, tapi Neni sering berbuat yang tidak - tidak kalau sudah diputusin pacarnya. Misalnya saja waktu dia diputusin Antonio yang usia pacarannya masih satu minggu yang disebabkan orang ketiga. Neni malah mengajaknya ke rumah sakit dan menaiki balkon. Dia berteriak – teriak seperti orang kesurupan diatas balkon rumah sakit. Jadinya Ollie yang malu sendiri minta ampun.

Neni menarik paksa tangan Ollie menuju lapangan sepak bola di desa sebelah. Letaknya dekat. Tapi bagi ukuran kedua cewek ini bisa jadi kejauhan. Disekitar lapangan juga sudah ramai. Anak kecil, orangtua, tua – muda, cakep – ancur, semua bersatu padu menengok turnamen yang terkenal seseantero kota ini. Yang buat Ollie illfeel adalah penontonnya yang banyak mesra - mesraan. Mereka pada manfaatin momen ini untuk pacaran. Mata Ollie sipit fokus sambil celingak – celingukan memperhatikan si cowok pelak – peluk gebetannya. Sial! Padahal dia kesini buat nemenin Neni.
Neni mendorong pinggul Ollie maju ke depan mendekati tepi lapangan. Mereka menyeruak keramaian tampil paling depan. “Eh, sudah mulai tuh!” seru Neni.

Ollie ogah. Dia sibuk memainkan bebe-nya. “Mending bebeem-an,” pikirnya.
“Priiit!” terdengar suara pluit wasit. Ollie masih cuek bebek. Mengabaikan hiruk – pikuk keramaian disampingnya. Bola itu bergelinding kesana kemari dan Ollie hanya berjibaku dengan bebe-nya. Masa bodoh!
“Ollie! Awas!”
“Bruukk!” bola sialan itu mendarat mulus di jidat Ollie tanpa sempat dihindarinya.
“Aduuh!” Ollie meringis kesakitan. Dia mengelus – elus jidatnya yang sudah benjol kira – kira sesenti.

“Ma-maaf! Kamu tidak apa – apa kan?” seseorang mendekatinya dari samping. Sesaat kemudian dia menawarkan handuknya kepada Ollie.
“Maaf – maaf palamu peyang!” maki Ollie dalam hati. Tapi tidak enak juga karena dia sudah bela – belain menawarkan handuknya. “Nggak apa – apa kok!” jawab Ollie yang disetel semanis mungkin. Kebiasaan kalau ketemu orang baru harus jaim.
Kirain dia lama perhatiannya. Tapi nyatanya cuma sebentar. Dia langsung bergabung lagi main bolanya ke tengah lapangan. Memang dasar manusia tidak berperikemanusiaan. Dia lebih memilih bola ketimbang Ollie yang sedang menjadi korban. Untung sakitnya tidak seberapa. Benjolnya juga langsung kempes. Tapi malunya itu yang selangit. Orang – orang pada melihatnya dengan tatapan sinis. Lagi – lagi Ollie cuek.
Neni juga sama. Setelah benar – benar yakin Ollie sehat wal afiat, Neni keterusan nonton bolanya. Dia jingkrak – jungkrik kesetanan akibat efek penonton bola. Benar – benar gila. Orang – orang disamping Ollie sudah seperti alien yang tidak memperdulikan penderitaannya. Mereka seperti terbawa arus oleh benda bundar itu, sementara Ollie tenggelam.
Sepertinya teori Om Einstein benar – benar jitu. Ollie ingat pelajaran Ibu Sonata mengenai relatifitas waktu. Seperti Ollie berada diantara kerumunan orang – orang gila ini selama 2 x 45 menit terasa seabad lamanya. Dekat dengan Totti mantannya dulu, seharian terasa satu menit berlalu. Benar – benar fantastis.
Setelah seabad menjalani kehidupannya yang menderita, pertandingan usai dengan dimenangkan tim desa yang tidak tahu namanya. Yang jelas cowok yang tadi sepertinya satu tim dengan tim yang menang. Tampaknya dia dipercaya memegang trofi kebesaran setelah diberikan oleh Kapolres sambil menyanyikan national anthem desanya. Suasana closing yang begitu meriah.
Diperjalanan pulang ke rumah, mereka dicekal dari belakang. Si cowok tadi tampaknya masih belum melupakan Ollie. Penyakit geer-nya pun kambuh lagi. Kebiasaannya kalau deket – deket dengan cowok tajir bisa lupa daratan. Ollie dan Neni berbalik.
“Kamu yang tadi kan? Kenalin, gue Evan,” cetusnya tanpa panjang lebar lagi setelah turun dari sepedanya.
“Ollie, ini Neni,” Ollie menyambut tangannya kemudian menunjuk ke arah Neni.
“Tadi sori banget ya? Soalnya gue kurang hati – hati.”
“Kurang hati – hati monyongmu? Untung pala gue tahan benjol!” gerutu Ollie dalam hati. “Eh, nggak papa kok!” ekspresi mukanya normal.
“Anu, kalau boleh kita bisa kenalan lebih deket lagi?”
“Maksudnya?” Ollie pura – pura bodoh.
“Boleh minta pin-nya nggak?”
Dan mulailah proses pedekate yang sekilas petir itu. Baik Ollie baik Evan, sepertinya cocok satu sama lain. Tidak butuh waktu lama, sebulan mereka sudah jadian. Kemana – mana pada lengket. Pulang sekolah, shopping ke mall, nonton di bioskop, makan di kafe, ganti status di fb dari lajang menjadi bertunangan, telponan saban malam dan terpaksa, nonton bola di tribun GBK!
Bicara kapok, Ollie tidak pernah jera dengan bola. Asal saja kali ini dia mesti lebih berhati – hati. Soalnya hatinya sudah kepincut dengan pesona Evan. Ollie merasa Evan berbeda dengan semua mantan gebetannya terdahulu. Evan lebih ganteng, jelas. Lebih perhatian, baik, tajir dan memiliki aura positif yang meletup – letup.
“Lo kok nggak konsisten, Ol?” tanya Vanie sehabis rapat mingguan OSIS kelar.
“Emang gue bilang anti cowok bola? Hanya bolanya itu. Lo juga nggak tega kan melihat sohibmu jadi jomblo seumur hidup gara – gara bola? Pas ada kesempatan besar dengan Evan, gue embat aja! Hihihi!” kilah Ollie. Dia biasa beradu argumen seperti ini karena posisinya sebagai wakil ketua OSIS.
Minggu siang adalah waktu yang pas buat jalan bareng pacar. Momennya juga pas buat weekend bareng orang yang kita sayangi. Pilihan tempat banyak tersedia, mulai dari kelas atas seperti liburan ke luar negeri sampai kelas jongkok seperti pacaran di atas fly over. Berbeda dengan Ollie dan Evan. Rencananya Evan mau mengajak Ollie nonton sirkus yang datang langsung dari korea. Di baliho tertera katanya anggotanya adalah bekas – bekas boyband dan girlband yang gagal dan tidak bersinar di negeri gingseng tersebut.
Lima menit Ollie menunggu. Seperempat jam sampai setengah jam batang hidung Evan masih tidak nongol. Ollie kesel. Dia lalu mengambil bus jurusan kota baru dekat dengan tempat sirkus. Sesampainya disana, Ollie bebeem Evan kalau dia sudah sampai. Taksirannya supaya Evan tidak repot – repot lagi menjemputnya.
Tapi malang memang tak dapat dihindari. “Sori Ollie sayang, tadi barusan pelatih mengabari kalau ketua sponsor baru saja tiba dan ingin melihat kami latihan. Kita bisa tunda nonton sirkusnya besok kan?” begitu suara Evan dari bebe-nya.
“Evan gilak!” Ollie frustasi bukan main. Dia menendang botol kaleng yang ada di depannya. “Bruukk!” lalu mengenai Om – om yang sedang menggandeng anak dan istrinya yang masih muda. Kebahagian mereka terusik akibat tendangan brutal Ollie.
“Ma-maaf!” Ollie menundukkan kepalanya. Untung pria itu langsung saja berlalu tanpa mempermasalahkannya. Ollie melihatnya menghilang memasuki pintu tenda sirkus.
“Benar kan! Semua gara – gara bola sialan! Kenapa hidup gue selalu berhubungan dengan bola, bola dan bola!?” sungut Ollie bertambah letupan amarahnya. Ollie merasa perlu untuk mendeklarasikan undang – undang antibola setiap hari untuk menetapkan hatinya dari hal – hal yang berbau bola. Berhubung dia punya smartphone, dia bisa set aplikasi alarm antibola setiap bangun tidur.
Ollie melangkah gontai disepanjang trotoar jalan. Dia kesel. Tapi tidak tahu mau meluapkannya kepada siapa. Persoalannya bukan sekedar bola, tapi juga Evan. Dia mulai meragukan kesetiaan Evan. Kalau pun dibandingkan dengan bola, ternyata dia masih kalah prioritas bagi Evan. Apa langsung putus aja? Atau dia perlu memberinya pelajaran? Tapi pelajaran apa? Matematika, Biologi atau Sejarah? Huh!
Ollie ingin melupakan kejadian tadi. Dia ingin melepas stress dengan bersantai di rumah. Dan dia baru ingat kalau Om Martin dan si kecil Marta yang centil akan datang sore ini. Tadi kata Papa adiknya itu minta dijemput ke bandara. Papa langsung menyuruh Kang Ujang, supir pribadinya untuk menjemput. Tapi sepertinya kedatangan pesawatnya molor. Buktinya sampai maghrib Om Martin masih belum juga nongol.
Kedatangan Om Martin dan Ponakannya Ollie, Marta ke rumah bukan tanpa alasan. Omnya itu terkenal seantero jagad bisnisnya. Seperti sebelum – sebelumnya, alasannya datang adalah karena urusan bisnis. Dan kalau Om Martin sudah membawa putri semata wayangnya itu, kemungkinan besar mereka juga akan mengambil waktu libur ke pantai. Keluarga Ollie memaklumi waktu yang dimiliki Om Martin tidaklah banyak untuk mengurusi Marta seorang diri. Sebagai single parent, sebisa mungkin Om Martin harus menyempatkan waktu buat Marta. Kalau ada urusan bisnis seperti sekarang ini, dia pasti membawa Marta. Sekalian silaturahim.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Om Martin dan Papa datang. Tadinya sehabis pulang dari kantor, Papa langsung menuju Bandara. Karena ada gangguan teknis kata pihak bandara, jadinya Papa bisa segera menyusul menjemput adiknya itu.
Keduanya akhirnya muncul dari pintu mobil Papa. “Cici!” teriak Ollie dari teras begitu melihat Marta turun dari gendongan Papa. Awalnya Marta bengong, mungkin karena sudah lama tidak bersua. Tapi akhirnya dia senyum – senyum juga.
“Oli, oli!” cetus Marta.
“Hus! Kak Ollie!” potong Om Martin mengajari. Kebiasaan buruk Marta memang begitu.
“Kak Oli!” Marta mendekat dan mencoba memeluk Ollie.
“Cici sudah besar ya!” Ollie mendekapnya. Kemudian dia menyalam Om Martin.
“Ollie juga tambah besar!” ungkap Om Martin. “Bagaimana kabarmu, li?”
“Sehat, Om,” sahutnya.
“Kak Ollie tambah cantik ya, Marta!” singgung Om Martin. “Pasti pacarnya banyak deh!”
Tuing! Ollie seketika keingat lagi sama Evan. “Ogah ah!” teriaknya.
Om Martin senyum cekikikan. Mama menyusul dari ruang tengah. Om Martin dan Marta kemudian disuruh masuk oleh Mama begitu juga Papa. Mereka kelihatannya lelah. Setelah mandi dan istirahat sebentar saatnya mengajak Om dan Marta makam malam. Bi Yom sudah mempersiapkan menu spesial untuk menyambut kedatangan mereka.
Ollie jadi keingat terus dengan Evan. Pasalnya rasa sebelnya masih belum surut. Kalau ketemu sama cowok itu pengennya langsung jitak, pukul, tendang atau cubit saja. Tapi sayang orangnya tidak ada disini.
Lagi sibuknya mempersiapkan makan malam, tiba – tiba Kang Ujang dari depan datang memberitahukan sesuatu. “Pak, sepertinya ada tamu untuk bapak,” katanya bermaksud kepada Om Martin.
“Oh, tunggu sebentar. Bilang tunggu saja, saya akan segera menyusul,” jawab Om Martin.
Om Martin langsung menuju ke depan. Tidak lama kemudian terdengar samar – samar percakapan Om Martin dengan seseorang. Ollie jadi penasaran. Pasalnya suara itu sepertinya akrab di telinganya. Dia hendak mengangkat kakinya. Tapi seketika itu dia mengurungkan niatnya. “Cuma halusinasi saja!” pikirnya. Mungkin dia sudah kerasukan jin iprit peliharaan Evan sampai – sampai mendengar suara si cowok sialan itu.
Tapi semakin lama suara itu semakin jelas. Ollie tak sanggup lagi membendung rasa penasarannya. Dia bangkit dan berjalan menuju ruang depan kemudian melewati pintu dan sampai di teras rumah. Dan dugaannya memang benar.
“Evan?”
“Ollie?”
Mereka saling berpandangan. “Ja-jadi ini rumahmu?”
Rasa kesel Ollie masih belum hilang. Tadi dia sudah berniat mendaratkan tendangan ke bokongnya begitu melihat muka Evan. Tapi lantas dia tahan karena didepannya ada Om Martin. “Eh, Evan!” Ollie seketika menjabat tangan kanan Evan.
“Aduh!” rintih Evan begitu menyadari Ollie berniat hendak menganiaya tangannya.
“Rasain lu!” bisik Ollie.
“Jadi kalian sudah saling kenal?” tanya Om Martin.
“Iya, Pak!”
“Nggak, Om!”
Om Martin memandangi keduanya dengan aneh.
“Iya, Om!” sahut Ollie merevisi jawaban sebelumnya.
“Dan, hubungan kalian?”
“Paca... gluk-gluk ohok!” Ollie serta merta mendekap mulut Evan. “Cuma temen kok, Om!”
Om Martin tersenyum geli. “Indahnya romansa anak muda!” sindirnya. “Kalian tahu, dulu Om dan Tante-mu seperti kalian juga. Tapi justru itu yang membuat Om sampai sekarang tidak bisa melupakannya. Hihihi!”
Ollie dan Evan jadi jengah. Tampaknya Om Martin sudah mengetahuinya. Tapi emang dasar, anak tuyul ini bisa – bisanya muncul dimana saja!
“Om kok bisa kenal dengan Evan?” tanya Ollie tidak bisa membendung rasa penasarannya.
“Tanya saja Evannya!”
Ollie melotot kearah Evan. Evan diam saja. Malah dia memasang muka iba, berharap diampuni Ollie setelah ini. Dia yakin, murka Ollie bisa diatasi dengan muka culun begitu.
“Sudah – sudah! Kamu tahu tidak kalau Evan ini salah satu murid akademi yang lolos seleksi provinsi,”
“Terus?”
“Perusahaan Om adalah sponsor yang mengadakan audisi tersebut,” jelas Om Martin.
“Iya, jadi Om-mu ini ... “
“Diam!” Ollie memotong penjelasan Evan. “Om bisa langsung mendiskualifikasinya dari seleksi!” cetus Ollie dengan kejam.
“Lho, kok begitu?” protes Evan melongo. Dia ingin protes.
“Ollie, dengar, Evan adalah pemain yang berbakat. Hanya saja tadi siang dia tidak bermain dengan kualitas prima-nya,” Om Martin memandang Keponakannya itu. “Kamu tahu nggak kenapa?” tanyanya lagi setelah melihat Ollie tidak merespon.
“Masa bodo!” sahut Ollie memalingkan muka sebelnya.
“Kalau Om yakin sih Evan sedang galau disaat itu. Om lihat sebelum tampil, dia sibuk menelpon seseorang. Berkali – kali pencet hape, telpon, pencet lagi, telpon lagi. Dia benar – benar merasa terganggu!”
Ollie jadi ingat sehabis menerima telpon Evan, dia langsung mematikan bebe-nya. Kalau kesel dia bisa begitu. Sampai seharian dia harus bebas dari hubungan luarnya dengan hape. Jadi setelah bebe-nya dimatikan, Evan masih berusaha meneleponnya? Dia tidak tahu itu.
“Evan orangnya baik. Tapi kalau bicara mengenai membandingkannya dengan bola, itu hal yang lain. Dia juga punya masa depan yang harus dia digapai. Jadi berhentilah egois, sayang,” cetus Om Martin menambahkan petuahnya.

Ollie melirik Evan. Evan nyengir. “Hu, dasar!” gumamnya. Hatinya mulai luluh. Sekilas terbayang kenangan indah bersama Evan. Ketika mereka nonton di bioskop, Evan rela – relain berdesak – desakkan untuk membeli tiket. Padahal tiketnya bisa dipesen lewat calo. Katanya supaya orisinil, seorisinil cintanya pada Ollie! Belum lagi dia tega tercebur ke parit untuk melindungi Ollie. Katanya itu melambangkan cinta mereka berdua, kadang pasang kadang surut. So sweet banget-lah pokoknya!
“Om selesai!” bisik Om Martin. Sepertinya dia tahu kapan waktunya pergi. Om Martin kemudian meninggalkan keduanya dan masuk ke dalam.
“Jadi, nggak marah lagi nih?” ucap Evan mengawali pembicaraan yang terhenti.
“Masih, nih buat kamu!” Ollie memasang kuda – kuda hendak meninju Evan. Tapi begitu kepalan Ollie hendak mendarat ke perut Evan, seketika Evan mendekap Ollie. Ollie jadinya gelagapan.
“Maafin aku yah!” bisik Evan lembut disamping telinga Ollie.
Ollie cuma memejamkan matanya. Dia tahu kalau perkataan Evan yang satu ini benar – benar berasal dari lubuk hatinya yang terdalam. Saat ini, Evan benar – benar yang terbaik yang Tuhan berikan kepadanya. Dia juga tidak ingin kehilangan Evan sebenarnya.
Ollie hendak membalas. Tapi seketika dia hendak berbalik ke arah pintu, dia melihat Om Martin yang cekikikan melihat mereka berdua. “Ihh, dasar Om Martin!” teriaknya keras

0 Response to "Cinta Ollie Pada Style dan Fashion"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel