Tabungan untuk Pakaian dan Baju Mak

pakaian mak

Kakinya gesit menyusuri pasar tumpah di pagi buta. Pedagang yang baru saja tiba, menyusun barangnya menyambut mentari pagi. Ratusan boks, melengkapi pertarungan sengit peniaga mengambil hati Mak. Mak, mahluk yang pandai bernegosiasi, memulai aksinya. Ia menjajaki stan tanpa terlewatkan. Selisih lima sen saja, akan memenangkan hatinya. Momen rabat yang cepat, menyuplai langkah bernafsunya.

Mak harus berjuang. Wanita itu dituntut profesional. Seorang manager keuangan rumah tangga tanpa pesangon. Lulusan sarjana cinta dari seorang suami berpenghasilan subsisten. Memiliki anak-anak tinggi edukasi, lantas membuat Mak mengispirasi. Sebuah perjuangan yang tidak butuh lelah mencetak generasi emasnya.

Putaran jentera mesin jahit konvensional mengantarkan Mak untuk memunguti remah-remah rezeki para jiran. Ia merangkap profesi. Menciptakan dan memvermak sandang. Kakinya mengayuh pedal. Berayun menjelujur kain dengan pintalan benang yang tersangkut pada bagian atasnya. Ia telaten. Hasil pelatihan semasa muda di kampungnya.

Ketika Bapak memberikan jatah harian dua puluh ribu, ia konsisten membelanjakan pangan secara efektif dan efisien. Lalu bila diaudit, akan tersisa tiga puluh persen residu anggaran untuk ditabung. Itulah Mak. Seorang investor handal yang pandai berpeluang dalam kesempitan.

Mak Pernah bercerita, mengenai pengalaman sempitnya diawal bulan. Ia harus pontang-panting mendapatkan sekilo beras kualitas jelek di warung, saat ia baru saja mengirim uang ke Ucok, anak ketiganya yang kuliah di Medan. Seluruh tabungannya ludes. Orderan konveksi kosong. Ia hanya mengharapkan warung kecil reyot depan rumah. Yang itu pun terkadang anaknya, menggerogoti tanpa meninggalkan sepesen terhadap kasirnya.

Seperti orang kaya pada umumnya, Mak yang miskin juga berhutang. Sebuah adagium kuno “gali lobang tutup lobang” karib dengannya. Mak bergantung kepada koperasi simpan-pinjam Saroha. Keringatnya, bahkan telah menguap bersama pagelaran ijab kabul anak-anaknya.

Kali ini wisuda Ucok. Ia adalah putera kedua. Seorang sarjana olahraga yang haus pengalaman. Ia tengah meminjam telepon genggam monokrom temannya. “Seremonial akbar-mu terancam krisis moneter,” tukas Bapak di dalam bilik wartel Siborang. Ia tahu telah mematahkan semangat anaknya. Tapi sebagai donatur keuangan tunggal di dalam keluarganya, ia harus realistis.

Disebuah pelataran yang ditumbuhi pohon asam Jawa renta, Mak terduduk. Semuanya memang serba sekarat. Konfirmasi dari pemilik toga itu masih buram. Dari balik pintu dua sisi itu saja, Mak setia menanti. Demi Ucok dengan wisuda sakralnya, akan menyita puing receh dari warung reyotnya.
Dan sore itu, Mak mendapatkan seperangkat toga dengan ukuran medium. Pemiliknya adalah putera Tante Sukemi, seorang bidan posyandu pasar impres.

Seharusnya toga itu sudah kucel, lecek, ternoda oleh debu lemari. Namun Mak bersikeras hendak meminjamnya. Katanya supaya kesuksesan Cahyo menular kepada Ucok. Mak menguceknya, membilas kemudian merendamnya semalam dengan detergen khusus. Setelah itu ia mengangin-anginkankannya dengan kipas angin usang hadiah. Katanya supaya awet tanpa UV matahari langsung.
***
Ucok menepi. Ia bersitegang dengan tukang sol di lapak ujung. “Kau sebut dirimu tukang sol sepatu?” Hardiknya. Lengkingan suaranya mengundang keramaian.
Sepatu boot hitam itu menganga. Ujungnya terkelupas. Jelujur benang cokelatnya sembarangan. Sebuah pekerjaan amatir. Ucok berang. Ia hampir menghempaskan sepatu pinjamannya itu ke tanah. “Warna saja kau tak bisa bedakan!” Timpalnya.

Tukang sol itu terhardik. Ia terpaku lama. Karya pekerjaannya tidak dihargai. Tapi ia tidak mampu berbuat banyak. Kalau melawan, Ucok bisa menjadikannya dendeng. Pekerjaannya di lapak kosong ini bisa terancam. Dan itu berdampak sistemik terhadap nafkah keluarga kecilnya.
“Apa-apaan kau, Cok?” seru seseorang dari balik kerumunan. Suaranya khas. Bapak muncul mencoba menengahi perseteruan tersebut. Ia melihat sepatu mengenaskan itu. “Ini, Bapak yang salah!” Ketusnya.

Tiba saja, pengakuan Bapak yang salah memberikan intruksi. Tukang sol itu menghendaki supaya jahitan sekeliling itu tidak dikelupas. Hanya di beli tambahan perekat. Tapi Bapak bersikeras supaya jahitannya diganti. Hanya saja warnanya memang tidak sesuai harapan.
“Maaf, dik. Anak saya lantam!” Bapak menyalaminya. Ia menarik tangan Ucok berlalu. Bagaimana selanjutnya adalah menenangkan puteranya itu. “Perlu Bapak mengganti sepatu ini?” Tanyanya sedikit bernada prestise.

“Suruh saja tukang sol sialan itu!”
“Kamu tidak tahu, dia itu buta warna! Dan masih amatiran. Mungkin Bapak terlalu naif mempercayakan sepatu itu kepadanya. Tapi sudahlah!”
Baru saja sebuah insiden kecil itu berlalu. Dan dalam sebuah selebrasi akbar di aula kampus tersebut, ratusan sarjana bertoga menghiasi panggung aula. Sebelumnya, Mak dan beberapa orang tua lain memasuki ruangan luas tersebut dengan status sebagai tamu. Tidak pelak suasana tumpah-ruah. Bangku-bangku terisi. Dan suara yang memecah langit-langit, meriah.

Antrean panjang pengisi acara itu melelahkan. Ucok segera melenggang setelah kesekian kali daftar terakhir. Ia disambut datar penghuni aula yang jenuh akan suasana serupa. Dan setelah bagian Ucok berakhir, akan mengawali masa pencarian pekerjaannya. Sebuah titel sarjana olahraga saja belum mencukupi untuk menafkahi perutnya yang semakin membuncit.

Di taman tunggu antara gedung rektorat dan aula, Ucok bertemu dengan tukang sol sepatu itu. Bapak datang menyapa terlebih dahulu. Ucok yang masih labil, menepi menjauhi percakapan basa-basi itu. Tapi sesaat kemudian, ia baru tahu kalau anaknya juga merupakan anggota wisuda tersebut. Ia sedikit tercengang. Dan ketika percakapan mereka berakhir, si tukang sol itu tersenyum bersahaja ke arahnya. Seperti bermaksud mengatakan, anakku juga tidak kalah denganmu!

Si tukang sol mengambil jarak beberapa senti ke arah Ucok. Ia mengenakan kemeja batik khas dengan aroma kesturi. Sisirannya belah samping. Sepatunya khusus boot. Celananya kantoran. Kontras dengan penampilan setengah abad-nya. Ia terlihat bersahaja di kala senjanya.

Wajah Ucok merah padam. Tidak biasanya ia dikalahkan seperti ini. Ia merasa dipermainkan. Sepertinya si tukang sol itu mencoba untuk mendekatinya. Ia menganggap mudah Ucok untuk meminta maaf. Ucok menunggu. Dan sampai si tukang sol itu yang pertama kali menjulurkan tangannya.

“Selamat, Nak!” senyumnya melebar menghiasi keriput di pipinya.
Sialan. Lelaki yang katanya banyak memakan asam garam kehidupan itu ternyata lebih ramah daripada yang dibayangkannya. Ucok berpikir sebentar. Ia menghendaki untuk menepis. Tapi Bapak datang dan menjawab semuanya.

“Terimakasih, Pak!”
Ucok dialihkan. Tapi ia sudah terlanjur mengambil posisi untuk membalas jabatan itu. Sekali lagi ia merasa dihina.
Si tukang sol itu menyambar begitu saja tangan Ucok. Baru malunya berkurang. “Selamat juga kepada putera Bapak!” ketusnya garing.

Posisinya tepat berhadapan dengan gedung pusat penelitian. Si tukang sol itu membusungkan dada. Ia berkacak pinggang sambil menunjuk ke arah gedung. “Suatu hari nanti, anakku akan bekerja disana!” serunya menggelegar.

Ucok terpaku. Ia menantikan kata-kata gila berikutnya. Nihil. Si tukang sol itu menggiring dan membawa anak difabel-nya. Perjalanan mereka terlihat panjang dan melelahkan. Tapi dari semburat wajahnya, tersirat optimisme potensial. Mereka menghilang ditelan lembayung senja di balik pohon akasia tua.

Ucok tidak tahu masa depannya. Semua adalah abu-abu. Tersembunyi dalam gemerlapnya toga wisuda. Tanggung jawabnya besar. Tujuannya simpang-siur. Ia seorang sarjana pesakitan yang tersesat dalam lubang dunia kerja. Ia rentan bertitel pengangguran. Tapi setidaknya ia tidak pernah mengalami pemutusan hubungan kerja.

Disebuah gelanggang olahraga, Ucok terduduk polos. Ia menunggu nasibnya dipekerjakan oleh orang besar di atas. Surat panggilan itu ia terima sehari setelah wisuda. Ketika ia membacanya keyakinannya untuk menjadi kualifikasi terbaik dari ribuan pelamar yang bertaruh sangat besar.
Ucok memperbaiki sisiran rambutnya. Ia baru memangkas cepak rambut ikalnya. Ia meminyaki permukaannya sambil menekan ke atas.

Begitu yakin, ia kini berganti melipat lengan kemejanya. Kemeja batik khas cetak itu sengaja dibeli menggunakan tabungan Mak di sebuah butik langganan. Ia menyemprotkan cairan parfum aroma klasik keseluruh pakaiannya. Konsistensinya diperbesar untuk daerah ketiak dan kerah. Sepatu yang ia kenakan tampil elegan ketika wisuda kemarin. Ia adalah salah satu pelamar paling necis diantara yang lainnya.

Setelah beberapa saat, namanya dipanggil oleh wanita yang duduk dipertengahan pinggir ruangan. Ucok tampil meyakinkan. Ia bangkit melewati pelamar lain. Selama ia memegang surat panggilan itu, pasti ia diterima. Tidak semua pelamar datang karena diundang. Dan ia spesial. Ia akan membanggakan Mak dengan gaji perdananya.

Ucok memasuki sebuah ruangan interview berdesain minimalis. Dari perspektif luar, terkesan simpel. Diapit oleh dua lemari baca. Tempat duduknya terbuat dari sofa khas timur tengah.
“Silahkan masuk!”

Dari luar terlihat pemandangan kota dengan jalan semrawutnya. Posisi lantai atas membuat temperatur sedikit lebih panas. Pancaran sinar matahari sedikit menyeruak dari tirai tipis di muka jendela.
“Langsung saja. Ketika saudara saya mengatakan anda mampu dengan bidang ini, saya tidak langsung percaya. Saya adalah tipe pemikir dengan mengedepankan kompetensi, anak muda!”
“Jadi?” Ucok tidak mampu mencerna pembicaraan yang terlalu dalam tersebut.
“Jadi,” pria itu menghentikan omongannya. Ia memberikan instruksi kepada sekretarisnya untuk melakukan sesuatu.
Ucok menunggu. Ia melihat sekretaris membuka pintu. Perlahan menyeruak sosok lelaki perawakan sedikit jakung. Ia dipandu. Tatapannya melengkung. Ia tidak bisa menatap lurus. Korneanya bergerak tidak karuan. Seorang strabismus!

“Ia akan menjadi rekanmu!”
“Bagaimana bisa?” Ucok baru tersadar bila penyandang difabel itu adalah putera si tukang sol.
“Anak muda, seorang prajurit tidak butuh alasan untuk mengerjakan titah dari Jendralnya!”
Seolah sindiran keras itu tertuju kepadanya. Ucok terdiam. Ia terpaksa mengikuti alur dari divisi HRD. Setelah secara sepihak ditentukan, tetapi ia tidak punya pilihan. Ia harus berkerjasama dengan seseorang yang benar-benar asing baginya.

Dari luar di sebuah lobi, Ucok mengakrabkan diri kepada rekan barunya itu. Ia menyapa dan menjabat tanganya. Hanya saja ia kesulitan memahami gaya bicaranya. Ia menyukai ketika berbicara tidak menatap matanya. Dan

0 Response to "Tabungan untuk Pakaian dan Baju Mak"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel