Fashion Ramadhan Bulan Puasa untuk Muslim

ramadhan

Bulan Ramadhan telah usai. Namun keberkahannya meninggalkan secarik kisah unik yang sulit untuk dilupakan. Bagiku, Ramadhan kali ini adalah momentum untuk memupuk pohon taqwa. Dimulai pada siang hari ketika kepulanganku dari kota Bertuah, aku menemui seorang anak lelaki di pelataran surau tua di desa persinggahan. Dibagian lorong antara kamar mandi dengan halaman surau, aku melihatnya sibuk menikmati camilan pisang salai. Ia terduduk sambil sesekali melirik sekelilingnya waspada.

“Kamu tidak puasa?” tanyaku sembari menyelidik.
Ia menoleh terkejut. Mulutnya yang menggembung cepat mengerut. Ia terbatuk dan tersedak seketika. Bibirnya belepotan. Jari jemarinya bermain menandakan sesuatu. Sepertinya ia sedang menggunakan bahasa isyarat. Sayangnya aku tidak terlalu mengerti.

Dan ketika Doal memanggil, ia telah menghilang ditelan teriknya matahari menghujam ubun-ubun. Baru setelah itu, aku menemukan sekeping koin seribuan ditempat anak itu duduk. Aku memungutnya. Aku, dan ketiga juniorku melanjutkan perjalanan pulang kami yang baru akan berhenti sekitar tiga puluh lima mil kemudian.

Seperti halnya tradisi yang melekat di masyarakat, hari perdana bulan shaum dijadikan meriah dengan pernak-pernik makanan. Masyarakat berbondong-bondong mandi bersama di sungai atau waduk sebagai simbol pengguguran dosa-dosa.

Kepulanganku kali ini berbeda. Baru seminggu yang lalu keluarga di kampung pindah menempati rumah baru. Selain terbebas dari rongrongan kontrakan, rumah kali ini juga berada jauh dari pusat kota. Sehingga mengharuskanku untuk membawa motor bututku dari kota Bertuah.

Berada di kampung, membuatku ingin berbisnis takzil. Hanya saja sebagai amatiran, aku membutuhkan rekan. Aku mengajak Dodit, yang sibuk dengan seubrek kegiatan organisasi kampusnya. Ia sempat tertarik, sebelum akhirnya memutuskan tidak.
“Gue harus fokus mempersiapkan pencalonan gue, Hap!”

Aku berpikir kalau bisnis ini tidak akan berjalan lancar. Lagipula musim penghujan sangat tidak cocok dengan semangat bisnisku. Aku urung. Dan pada akhirnya, ini semua hanya menjadi ide belaka yang sia-sia.
Dodit memang terlihat serius ingin menjadi presiden di kampusnya. Dan ia membisikkan sesuatu ke telingaku. “Mending kita mempersiapkan buka bersama anak-anak sma, bagaimana?”
Sialan. Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan waktu untuk mengurus acara akbar seperti itu? Tapi pada ujungnya aku tidak menolak. Satu hal yang pasti, aku masih memiliki kegiatan positif didalam bulan shaum ini. Terlebih menyambung silaturahim dengan rekan putih abu-abu, membuatku bernostalgia untuk sesaat.

Disebuah ruangan kotak putih berlantai keramik, aku dan beberapa panitia meeting membahas persiapan buka bersama kali ini. Dari beberapa panitia terlihat proaktif menuangkan ide-idenya. Sebagaian yang lain pasif. Dan beberapa memiliki sifat keras kepala. Ini yang membuat perbincangan menjadi alot dan mengaret hingga menjelang sore.

“Panitia harus sinkron. Seksi konsumsi menjadi titik vital. Harus berkoordinasi dengan seksi keamanan menjaga tangan-tangan jahil tamu. Insya allah, acara kita akan berjalan lancar!” tutup Bang Hendra selaku alumni yang paling senior. Ia menjadi koordinator acara. Selain orang yang dituakan, ia juga paling matang pengalaman. Idenya memberikan angin sejuk kepada panitia lainnya. Itu yang menggerakkan panita supaya bekerja ekstra.

Aku menyeka peluh. Terik matahari memanggang ruangan hingga seperti oven raksasa. Ventilasi ruangan yang terbatas membuat sanitasi udara mampet. Belum lagi kuota oksigen yang semakin lama habis oleh mahluk hidup di dalam ruangan. Bang Hendra terlihat tersenyum dengan gestur tubuhku. Ia membuka kegaduhan panitia sesaat.

“Sepertinya kita harus membelikan Hap minum!”
Panitia tertawa kompak. Sebagian mereka mengompori mengajak makan. Suasana berubah cair. Dan meskipun tenggat pelaksanaan bukber kali ini mapet, panitia mengambil langkah simpel dengan menggunakan jasa catering. Belajar dari tahun lalu, seksi konsumsi yang keteteran mempersiapkan hidangan. Meskipun tarif yang dipatok naik lima belas persen, ini menjadi opsi terakhir dengan resiko terkecil.

Senor terlalu rajin mempersiapkan tata kelola ruang, pingsan, dibawa ke rumah sakit, adiknya senor yang terlihat di surau. Senor menderita s

0 Response to "Fashion Ramadhan Bulan Puasa untuk Muslim"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel